Suku Baduy



KEBUDAYAAN INDONESIA

Suku Baduy
Tinggal  Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak,Banten Jawa Barat.
Bahasa  sunda banten 

 Masyarakat kanekes Baduy dibagi menjadi 3 kelompok :
-   Kelompok tangtu (baduy dalam)  
Cibeo, Cikartawana

-   Kelompok masyarakat panamping (baduy Luar) di desa Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, yang mengelilingi wilayah baduy dalam.

-   Kelompok Baduy Dangka
di luar wilayah Kanekes, dan pada saat ini tinggal 2 kampung yang tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam)

KELOMPOK SUKU BADUI

1. Kelompok tangtu (baduy dalam)
tinggal di pedalaman hutan dan masih terisolir dan belum masuk kebudayaan luar Yaitu kampung Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik

2. Kelompok masyarakat panamping (baduy Luar)
tinggal di desa Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, yang mengelilingi wilayah baduy dalam

3. Kelompok Baduy Dangka
di luar wilayah Kanekes, dan pada saat ini tinggal 2 kampung yang tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam)

Penyebab Dikeluarkannya Warga Kanekes Dalam ke Kanekes Luar:

Mereka telah melanggar adat masyarakat Kanekes Dalam.

Berkeinginan untuk keluar dari Kanekes Dalam

Menikah dengan anggota Kanekes Luar.

MATA PENCAHARIAAN

- Menanam padi (dilambangkan dengan sebutan Nyi Pohaci SangHyang Asri) tidak boleh dijual

- Berdagang pakaian

- Membuat gula kawung

- Menangkap ikan

-  Berladang tembakau, hasil hutan, buah- buahan, dll.

RELIGI
Kepercayaan masyarakat baduy disebut sebagai “sunda wiwitan” berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang “Animisme” yang pada perkembngan selanjutnya baduy luar dipengaruhi oleh agama budha,hindu dan islam.

Inti kepercayaan sunda wiwitan ditunjukkan dengan adanya “Pikukuh” yang berorientasi pada prinsip
“ panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung”

Peralatan dan Teknologi
Kehidupan orang Baduy berpusat pada pertanian yang diolah dengan menggunakan peralatan yang masih sangat sederhana. Dalam adat masyarakat Baduy tidak boleh menggunakan peralatan yang sudah modern. Mereka mengandalkan peralatan yang masih sangat primitive seperti bedog, kampak, cangkul, dll.

Upacara
Upacara-upacara masyarakat baduy bertujuan untuk menghormati nenek moyang, mensucikan bumi, dan Dewi padi sang hyang asri, dan mengekalkan pikukuh.

Beberapa upacara masyarakat badui diantaranya :

- Penghormatan Sang Hyang Asri

- Upacara Kawalu yaitu upacara yang dilakukan dalam rangka menyambut bulan kawalu yang dianggap suci dimana pada bulan kawalu masyarakat baduy melaksanakan ibadah puasa selama 3 bulan yaitu bulan Kasa,Karo, dan Katiga.

- Upacara ngalaksa yaitu upacara besar yang dilakukan sebagain uacapan syukur atas terlewatinya bulan-bulan kawalu, setelah melaksanakan puasa selama 3 bulan. Ngalaksa atau yang bsering disebut lebaran.

- Seba yaitu berkunjung ke pemerintahan daerah atau pusat yang bertujuan merapatkan tali silaturahmi antara masyarakat baduy dengan pemerintah, dan merupakan bentuk penghargaan dari masyarakat baduy.

- Kelahiran yang dilakukan melalui urutan kegiatan yaitu:
 1. Kendit yaitu upacara 7 bulanan ibu yang sedang hamil.
 2. Saat bayi itu lahir akan dibawa ke dukun atau paraji untiuk dijampi-jampi.
 3. Setelah 7 hari setelah kelahiran maka akan diadakan acara perehan atau    selametan.
 4. Upacara Angiran yang dilakukan pada hari ke 40 setelah kelahiran.
 5. Akikah yaiotu dilakukannya cukuran, khitanan dan pemberian nama oleh dukun(kokolot) yuang didapat dari bermimpi dengan mengorbankan ayam.

Kesenian dan Kerajinan

- Angklung ( di gunakan untuk mengiringi perjalanan padi ke huma yang di lengkapi dengan bedug, ketuk, talinting )

- Pantun ( diadakan pada malam sebelum tanam padi ‘’ malam tangtu’’  di iringi permainan kecapi

- Gamelan ( di mainkan dalam acara perkawinan yang di lengkapi dengan alat musik rendo, seruling, dan kolecer )

- Kain tenun yang bermotif ornamen – ornamen seperti anyaman, garis – garis, gambar alat musik

Kesenian dan Kerajinan

- Angklung ( di gunakan untuk mengiringi perjalanan padi ke huma yang di lengkapi dengan bedug, ketuk, talinting )

- Pantun ( diadakan pada malam sebelum tanam padi ‘’ malam tangtu’’  di iringi permainan kecapi

- Gamelan ( di mainkan dalam acara perkawinan yang di lengkapi dengan alat musik rendo, seruling, dan kolecer )

- Kain tenun yang bermotif ornamen – ornamen seperti anyaman, garis – garis, gambar alat musik

Sistem Pengetahuan
Sistem pengetahuan orang Baduy adalah Pikukuh yaitu memegang teguh segala perangkat peraturan yang diturunkan oleh leluhurnya. Dalam hal pengetahuan ini, orang Baduy memiliki tingkat toleransi, tata krama, jiwa sosial, dan teknik bertani yang diwariskan oleh leluhurnya.
Dalam pendidikan modern orang Baduy masih tertinggal jauh karena suku baduy tidak mengenal bangku sekolah namun orang Baduy sangat informasional (tahu banyak informasi). Hal ini ditunjang karena kegemaran sebagai orang rawayan (pengembara).

Konsep Kepeimpinan Masyarakat Baduy

Pemimpin adat tertinggi dalam masyarakat Kanekes adalah "Pu'un" yang ada di tiga kampung tangtu.

Dibawah puun, setiap kampung memiliki seorang Lurah “Jaro” dibagi ke dalam empat jabatan, yaitu jaro tangtu, jaro dangka, jaro tanggungan, dan jaro pamarentah

    * Jaro tangtu bertanggung jawab pada pelaksanaan     hukum adat

    * Jaro dangka dan tanggungan bertugas menjaga, mengurus, dan memelihara tanah titipan leluhur

    * Jaro pamarentah secara adat bertugas    sebagai     penghubung antara masyarakat adat   Kanekes     dengan pemerintah nasional  

TERIMAKASIH




Source:
Dosen Drs. Suharyana, , M.Pd.

Komentar