SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM INDONESIA



RINGKASAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM DI INDONESIA
BAB V

Pembentukan Kerajaan-Kerajaan Islam
Sejarah kebudayaan islam indonesia

Samudra Pasai dan Malaka
: Dua kerajaan Islam pertama
Kerajaan Samudra Pasai

Didirikan oleh Marah Silu yang bergelar Sultan Malik As-Saleh, dan berkuasa pada tahun 1285-1297 Masehi.

Kerajaan Samudera Pasai berkembang menjadi kerajaan maritim kuat di Selat Malaka. Setelah Sultan Malik as-Saleh wafat, Kerajaan Samudera Pasai dipimpin oleh Sultan Malik as-Zahir.

Kerajaan Samudera Pasai mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Malik Az-Zahir ( 1297-1326 M )

Pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Malik al-Zahir, Samudera Pasai mendapat serangan dari Kerajaan Majapahit. Selanjutnya, pada tahun 1383 dibawah pimpinan Sultan Zain Abidin Malik al-Zahir, Kerajaan Samudera Pasai berhasil melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Samudra Pasai dan Malaka
: Dua kerajaan Islam pertama
Marco polo, seorang pengembara dari vanesia. Dia menyatakan bahwa beberapa tahun sebelum tanggal yang tertera dibatu nisan diatas, 1292, Samudra pasai belum berkembang menjadi sebuah kerajaan dan juga belum beralih ke islam.

Samudra Pasai waktu itu lebih merupakan salah satu pusat dagang dipantai utara Sumatra, selain perlak, lamuri, dan beberapa pusat dagang lain di wilayah tersebut.

Pembentukan samudra pasai menjadi sebuah kerajaan serta perkembangannya di nusantara pada abad ke-14, berlangsung islamisasi di nusantara.

Samudra Pasai dan Malaka
: Dua kerajaan Islam pertama
Kerajaan Malaka

Raja Parameswara merupakan pendiri kerajaan Malaka sekaligus menjadi raja pertama kerajaan ini. Ia memerintah dari tahun 1396-1414 M.

Untuk meningkatkan aktivitas perdagangan di kerajaan Malaka dan akibat dekatnya kerajaan Malaka dengan kerajaan Islam Samudera Pasai, maka Parameswara kemudian memeluk agama Islam dan berganti nama menjadi Iskandar Syah, dan merubah corak kerajaan dari sebelumnya beragama Hindu menjadi kerajaan atau kesultanan Islam.

Samudra Pasai dan Malaka
: Dua kerajaan Islam pertama
Awal abad ke-13 dalam sejarah nusantara memang merupakan satu periode sangat penting dalam sejarah perdagangan maritim diwilayah nusantara.

Pada periode tersebut, perdagangan maritim nusantara memperlihatkan perubahan rute perdagangan yang melibatkan wilayah-wilayah di pantai utara Sumatra.

Setelah sekitar tiga abad menguasai rute perdagangan kerajaan sriwijaya mengalami kemunduran dikarenakan serangan kerajaan cola dari india dan ada factor lain yaitu berhentinya dukungan politik imperium cina.

Samudra Pasai dan Malaka
: Dua kerajaan Islam pertama
Menurut W.P Groeneveldt & Rochkill: Imperium cina telah mengirim utusan ke kerajaan Samudra pasai dan malaka pada abad ke-14, Cheng Ho, bahkan membawa raja Bersama istri dan anaknya.

Tidak ada bukti historis yang secara kuat menunjukkan bahwa kehadiran cina memberi pengaruh besar pada pemeluk agama dan pembentukan budaya masyarakat

O.W Wolters berpendapat bahwa masuknya raja malaka ke islam merupakan upaya politik yang strategis guna menghindari isolasi internasional setelah hengkangnya kekuatan cina di nusantara.

Samudra Pasai dan Malaka
: Dua kerajaan Islam pertama
Catatan Ibnu Batutta dari Afrika Utara pada abad ke-14, menurutnya, Sultan Malik al-Zahir –penguasa kedua kerajaan Samudra pasai- adalah orang yang sangat taat menjalankan shalat di masjid istana, melakukan kajian Al Qur’an juga dikenal dengan orang yang dekat dan menghargai ulama.

Catatan seorang Portugis, Tom Pires, Pada abad ke-16 raja malaka berusaha mepraktekkan ajaran-ajaran islam dikerajaan, hal ini dibuktikan dalam sebuah teks melayu berisi aturan resmi kerajaan, undang-undang malaka. Dalam teks tersebut ditunjukkan, misalnya bahwa hukum larangan riba dalam perdagangan, yang tertera dalam Al Qur’an (2:275) dijadikan peraturan resmi kerajaan.

Karena itu, dalam perkembangannya Samudra pasai maupun malaka tampil sebagai pusat kekuatan islam terkemuka di nusantara.

Pertumbuhan Kerajaan-Kerajaan

Jatuhnya kerajaan malaka ditangan portugis pada 1511 pada abad ke-15 tidak membawa pengaruh besar terhadap perkembangan islam di nusantara secara umum, justeru segera disusul terciptanya kondisi sosial-politik dan keagamaan yang menjadi basis berlangsungnya proses islamisasi yang intensif dan jangkauan penyebaran islam yang semakin luas ke berbagai wilayah. Hal ini, pada gilirannya, membawa lahirnya pusat-pusat kekuatan islam baru yang tidak hanya terkonsentrasi di pantai utara Sumatra tapi tersebar di wilayah-wilayah lain di nusantara.

Pertumbuhan Kerajaan-Kerajaan

Kondisi politik nusantara memang ditandai kehadiran dua kekuatan barat, portugis di malaka dan belanda di Batavia. Hal ini membawa pengaruh pada perkembangan politik di kerajaan-kerajaan islam yang tersebar di berbagai wilayah nusantara

Setelah jatuhnya malaka, jalur perdagangan mengalami perubahan, rute yang ditempuh para pedagang muslim tidak lagi melalui selat malaka tapi bergerak melalui selat sunda dan selanjutnya ke pantai barat sumatra. Dari selat sunda para pedagang tersebut kemudian memasuki lebih jauh kawasan indonesia bagian timur.

 

Pertumbuhan Kerajaan-Kerajaan

Sejak penaklukkan malaka, para pedagang muslim manca negara yang sebelumnya melakukan transaksi bisnis mereka di malaka beralih ke aceh.

Sultan Ali Mughayat (w. 1530) adalah orang yang dianggap telah bertanggung jawab meletakkan landasan yang real bagi berdirinya kerajaan aceh

Wilayah kerajaan aceh memang sangat potensial sebagai penghasil barang-barang komoditi yang laku di pasaran internasional. Daerah taklukkan Ali Mughayat Shah khususnya pidie, pasai dan daya terkenal sebagai penghasil utama lada dan rempah-rempah di Sumatra.

 

Pertumbuhan Kerajaan-Kerajaan

Bersamaan dengan kerajaan aceh, dibelahan barat nusantara juga berdiri kerajaan-kerajaan islam sejalan arus perdagangan maritim setelah kejatuhan malaka.

Sultan Mahmud, raja malaka terakhir melarikan diri ke riau-lingga yang akhirnya menjadi pusat kerajaan setelah mendapat dukungan penuh namun pada 1526 kerajaan ini mendapat serangan dari portugis

Sehingga sultan mahmud memindahkan pusat kerajaan ke kampar di pantai timur sumatra. Setelah meninggal dia digantikan anaknya, Sultan Alauddin Ri’ayat Shah.

Pada 1530-1536 dia akhirnya mendirikan kekuasaan di hulu johor.

Pertumbuhan Kerajaan-Kerajaan

Kerajaan-kerajaan lain dibelahan barat nusantara yang menyusul jatuhnya malaka ke tangan portugis adalah perak dan brunei.

Kerajaan perak berdiri pada awal abad ke-15. Muzaffar Shah, raja pertama perak dan Sultan Mahmud Shah, penguasa terakhir kerajaan malaka sebelum ditaklukkan portugis. Saudara tiri Sultan Alauddin Ri’ayat Shah, penguasa pertama kerajaan johor.

Kerajaan perak tercatat mengalami perkembangan penting di dunia melayu, pada masa pemerintahan raja kedua, Sultan Mansur Shah (1549-1577) kerajaan perak tercatat dikunjungi para pedagang eropa dan india yang hendak melakukan penambangan timah diwilayah kerajaan. 

Pertumbuhan Kerajaan-Kerajaan

Pada sekitar 1514-1521 Brunei telah berdiri menjadi sebuah kerajaan dan telibat intensif dalam perdagangan maritim internasional

Sumber-sumber cina mencatat bahwa kerajaan tersebut terus berkembang bahkan hingga abad ke-15 dan berada dibawah imperium cina. Kerajaan inilah yang pada abad ke-16, menjadi kerajaan islam brunei setelah disinggahi dan selanjutnya bersentuhan erat dengan para pedagang muslim.

Demikian sejak awal abad ke-16 Brunei resmi beralih menjadi kerajaan islam.

Pertumbuhan Kerajaan-Kerajaan

Sejalan pertumbuhan Kerajaan-kerajaan, Di jawa juga berdiri kerajaan Demak pada awal abad ke-16 sebagai kerajaan islam pertama

Kerajaan Demak berdiri pada tahun 1478 penguasa pertama Raden Patah. Dia seorang keturunan raja Majapahit dan isteri seorang puteri cina yang dihadiahkan raja Palembang

Kerajaan Demak memiliki makna signifikan dalam sejarah islam di tanah jawa. Fakta bahwa Demak merupakan kerajaan islam pertama di tanah jawa sehingga ia bertanggung jawab atas berakhirnya era hindu-budha.

Pertumbuhan Kerajaan-Kerajaan

Kerajaan Demak bagi kalangan masyarakat jawa telah dianggap sebagai tempat suci yang memperkukuh pengakuan mereka bahwa Demak adalah perlindungan agama islam di jawa. Kerajaan Demak menjadikan islamisasi masyarakat sebagai bagian dari ekspansi wilayah kerajaan. Selain itu, masjid demak tercatat menjadi tempat berkumpulnya “wali songo” yang dianggap paling bertanggung jawab dalam penyebaran islam di tanah jawa.

Pertumbuhan Kerajaan-Kerajaan

Kemunculan Demak sebagai Kerajaan Islam terkemuka di jawa segera disusul berdirinya kerajaan islam lain, khususnya Banten dan Cirebon.

Kerajaan Banten dan Cirebon didirikan oleh Syekh Nurullah atau dikenal Sultan Gunung Jati pada tahun 1525

Berdasarkan cerita jawa-banten, de Graaf dan Pigeaud bahwa Nurullah mengusir bupati sunda kerajaan pajaran dan mengambil alih kekuasaan di banten. Bersama proses islamisasi dan perluasan wilayah dengan merebut kota pelabuhan sunda kelapa kemudian mengganti Namanya menjadi jayakarta

Tak lama setelah berhasil melakukan konsolidasi kekuatan politik kerajaan, kursi kerajaan diserahkan kepada anaknya, Hasanudin.

Pertumbuhan Kerajaan-Kerajaan

Nurullah meninggalkan Banten dan pindah ke Cirebon, untuk mengabdikan dirinya pada kehidupan rohani dan penyebaran islam dibuktikan dari pembangunan masjid meniru model masjid di kerajaan demak.

Perkembangan dua kerajaan islam juga di dukung perkembangan ekonomi maritim di pantai utara jawa akibat eksodus besar-besaran para pedagang muslim

Kerajaan Banten yang terletak di bibir laut jawa, menjadi daerah pusat perdagangan baru yang banyak disinggahi para pedagang internasional

Kehadiran pedagang internasional juga didukung kenyataan bahwa banten daerah penghasil komoditas yang laku di pasaran internasional, khususnya lada.

Pertumbuhan Kerajaan-Kerajaan

Besarnya pengaruh yang ditimbulkan perdagangan maritime dalam perkembangan kerajaan-kerajaan islam di sekitar pantai utara jawa Nampak mempengaruhi kebijakan politik kerajaan demak terhadap wilayah kekuasaanya di belahan timur jawa. Seperti halnya di jawa barat, penguasa Demak dalam hal ini Nampak “mentolelir” berdirinya kerajaan-kerajaan islam diwilayah timur dengan memiliki tingkat otonomi kekuasaan relatif besar seperti kudus, jepara, gresik dan Surabaya.

Pertumbuhan Kerajaan-Kerajaan

Kerajaan Gresik didirikan oleh salah seorang wali sanga, Sunan Giri. Perkembangan gresik dalam hal ini memang ditunjang wibawa spiritual keagamaan pemimpinnya sebagai ulama terkenal di jawa.

Dalam catatan Tom Pires, awal abad ke-16 Gresik telah menjadi kota perdagangan laut yang paling kaya dan paling penting di seluruh jawa

Bahkan di kota ini berlangsung transaksi bisnis dalam skala besar dan internasional

Kerajaan ini berbasis budaya pesisir yang dikenal urban dan kosmopolit di samping juga dikenal memperlihatkan gaya keislaman “kaum santri”

Pertumbuhan Kerajaan-Kerajaan

Setelah meninggalnya Sultan Trenggana, Kerajaan demak mengalami kemunduran, yang kemudian disusul berdirinya kerajaan pajang dan mataram

Peralihan kekuasaan dari Demak ke Pajang dan akhirnya Mataram bermula setelah meninggalnya Sultan Trenggana pada 1546. kemudian diwariskan ke Sunan Prawoto.

Sunan Prawoto tidak mampu mempertahankan keutuhan wilayah kekuasaan kerajaan bahkan diperparah konflik dengan penantangnya, Aria Penangsang dari Jipang, sehingga membawa kematian Pranoto

 

Pertumbuhan Kerajaan-Kerajaan

Maka pada sekitar 1582, Jaka Tingkir –menantu Trenggana- mendapat dukungan politik dari sunan giri menyatakan dirinya sebagai sultan yang berkuasa di pajang.

Sejak saat itu pajang berdiri menjadi sebuah kerajaan, sementara Demak semakin mundur karena konflik politik dikalangan keluarga istana, sebelum akhirnya tunduk di bawah kekuasaan pajang dan mataram

Pada abad ke-16 kekuasaan mataram berada dibawah dominasi kerajaan pajang, Panembahan Senapati, raja pertama Mataram.

Pada dasawarsa terakhir abad ke-16 Senapati Mataram telah berhasil menguasai hampir seluruh daerah penting di jawa tengah.

Pertempuran Surabaya-Mataram hampir terjadi, Senapati berusaha agar kekuasaanya di Mataram diakui oleh kerajaan islam jawa timur malah mendapat tantangan keras, tetapi atas jasa sunan giri, pertempuran tersebut bisa dihindari.

Pertumbuhan Kerajaan-Kerajaan

Peralihan Kerajaan Goa-Tallo ke islam sekitar 1602-1607 berlangsung ketika para pedagang muslim yang semula hanya terbatas sebagai komunitas keagamaan, membentuk satu kekuatan sosial dan politk serta sekaligus berfungsi sebgai agen islamisasi kerajaan

Setelah sultan Alauddin masuk islam pada 1607 penguasa Goa-Tallo selanjutnya menjadikan islam sebagai agama resmi serta sekaligus ideologi kerajaan

Kerajaan Goa-Tallo berhasil menjadi kerajaan islam terkemuka di belahan timur nusantara setelah menguasai sumber ekonomi perdagangan di sulawesi

Pertumbuhan Kerajaan-Kerajaan

Kerajaan Ternate berdiri sejak abad ke-13 penguasa kerajaan tersebut, Raja Zainal Abidin. kemudian berkembang menjadi kerajaan terkemuka di maluku

Kerajaan Ternate juga dikunjungi para pedagang internasional khususnya bangsa arab dan Persia yang berusaha mencari wilayah utama penghasil rempah-rempah

Kerajaan Ternate akhirnya mengalami perkembangan pesat dibidang ekonomi maupun politik.

Kerajaan dan Islamisasi di Nusantara

Integrasi Islam dengan dinamika politik di kerajaan selanjutnya bisa dijelaskan dalam corak proses awal islamisasi di nusantara. Dalam hal ini, islamisasi berlangsung sejalan dengan pembentukan kerajaan-kerajaan yang berbasis pada keterlibatan secara intensif beberapa wilayah nusantara dalam perdagangan jarak jauh di Samudra hindia sejak awal abad ke-13.

Berdirinya kerajaan Samudra pasai dan malaka di pantai utara Sumatra memperlihatkan dengan jelas pola perkembangan islam demikian

Konversi keislaman raja-raja melayu menjadi kekuatan politik sangat berarti bagi proses pengislaman masyarakat kerajaan

Pembentukan Kerajaan: Basis Politik Penyebaran Islam

Awal perkembangannya pada abad ke-13 da ke-14 kerajaan Samudra pasai dan malaka telah memperlihatkan perannya yang penting dalam berlangsungnya proses islamisasi. Para penguasa dua kerajaan tersebut tercatat telah berjasa meratakan jalan bagi perkembangan islam di dunia melayu hampir tidak mengalami hambatan berarti. Hal paling menonjol dalam konteks ini adalah bahwa raja-raja melayu sengaja mengundang para pedagang muslim internasional untuk datang dan melakukan transaksi bisnis mereka di kerajaan

Kerajaan dan Islamisasi di Nusantara

Setelah Malaka jatuh ke tangan portugis pada 1511 basis islamisasi selanjutnya beralih ke kerajaan Aceh. Berdiri sekitar 1514 dibawah Ali Mughayat Shah sebagai penguasa pertama, kerajaan Aceh mengalami perkembangan penting baik dibidang ekonomi, politik maupun keagamaan

Para pedagang muslim internasional yang sebelumnya ke malaka sejak saat itu berpindah ke aceh, sejalan dengan kemajuan ekonomi kerajaan aceh kemudian tampil sebagai satu kekuatan politik islam terkemuka di melayu-nusantara sejak abad ke-16

Aceh selanjutnya berkembang menjadi basis kekuatan bagi berlangsungnya islamisasi di nusantara lebih intensif terutama zaman kejayaanya Sultan Iskandar Muda, Islam lebih menonjol di kehidupan masyarakat, ekonomi maupun politik

Kerajaan dan Islamisasi di Nusantara

Anthony Reid –ahli sejarah Asia Tenggara- dia mencatat bahwa pada periode masa kerajaan Aceh ini sejalan terjalinnya hubungan erat dengan pusat dunia islam, perkembangan islam di nusantara mengalami masa paling krusial. Ini ditandai terutama terjadinya “revolusi keagamaan” dimana islam telah menempati posisi terpenting dalam pembentukan pandangan dunia yang berlaku dan selanjutnya menganggap masa pra-islam sebagai sebuah masa kegelapan

Azra membuktikan bahwa sejak abad ke-16 hubungan melayu nusantara dengan timur tengah tidak hanya terbatas pada hubungan perdagangan, tapi juga pada tingkat intelektual dan keagamaan. Melalui para ulama nusantara yang belajar di mekkah dan Madinah, kondisi keislaman di nusantara semakin berada langsung dibawah pengaruh wacana keislaman timur tengah. Para ulama, telah melakukan transmisi intelektual keagamaan di nusantara.

Kerajaan dan Islamisasi di Nusantara

Terbentuknya Kerajaan Islam Demak pada 1516, merupakan tahap penting proses islamisasi di tanah jawa sebab berdirinya Demak tidak hanya menandai berakhirnya kekuasaan hindu-budha dan beralih ke islam, tapi sekaligus mengawali masuknya periode islamisasi di jawa

Kerajaan demak melakukan ekspansi kekuasaan ke bagian timur jawa, meliputi: Surabaya, Pasuruan, Lamongan, Blitar dan Gresik sedangkan barat jawa, meliputi: Banten dan Cirebon. Eskpansi ini dilakukan melalui peran wali sanga

Kerajaan dan Islamisasi di Nusantara

Pada abad ke-16, setelah dihadapkan pada sejumlah konflik politik dalam tubuh istana berdiri kerajaan baru, Kerajaan Pajang dan Mataram

Peran penting Kerajaan Mataram bisa dijelaskan dalam keberhasilannya menajdikan islam terintegrasi ke dalam system budaya jawa secara lebih menyeluruh serta jantung kehidupan politik jawa yang berbasis di kerajaan pusat. Hal ini pada gilirannya sekaligus berarti menjamin tingkat keberlangsungan proses pengislaman masyarakat karena dilakukan sejalan dengan tingkat kemampuan adaptasi budaya yang berlaku

Pada masa Mataram bahwa karya-karya keislaman, seperti teks sufisme dalam serat dan babad berkembang sebagai bentuk pelembagaan system budaya yang diwarnai nilai-nilai islam

Kerajaan dan Islamisasi di Nusantara

Kerajaan Goa-Tallo dan Ternate berkembang sejalan dengan eksodus para pedagang muslim di melayu setelah jatunya malaka di portugis selanjutnya disusul tumbuhnya pusat-pusat ekonomi dan politik baru

Setelah raja Goa-Tallo beralih ke islam pada 1605, I Mangarangi Daeng Manriba –Sultan Tumenga ru Gaukanna- proses islamisasi masyarakat Sulawesi beralngsung semakin luas melalui dukungan politik kerajaan

Kerajaan Goa-Tallo memiliki system kepatuhan mutlak kepada raja yang dirumuskan dalam konsep mangaru, sumpah setia rakyat dalam mengikuti raja termasuk dalam agama. Hal ini membuktikkan efektifnya kerajaan sebagai basis kekuatan islamisasi di wilayah nusantara.

Pembentukan Intitusi Islam

Penting di tekankan bahwa sejak abad ke-16 masyarakat nusantara tengah mengalami perubahan sangat berarti di hampir semua segi kehidupan yang berlangsung sejalan dengan berkembangnya pengaruh islam di masyarakat. Dennys Lombard -ahli sejarah Indonesia- bahkan mencatat bahwa periode diatas  dalam sejarah nusantara ditandai terbentuknya “masyarakat jenis baru” yang banyak dilandasi nilai-nilai islam.

Raja dan Ulama

Beberapa sumber Eropa mencatat kehadiran ulama dalam setiap praktik politik penguasa di kerajaan. Bahkan kehadiran ulama sangat menentukan dalam memutuskan kebijakan politik sangat penting, khususnya berkaitan dengan kerja sama internasional

Pentingnya kedudukan ulama seperti demikian di kerajaan, khususnya di Aceh tentu saja menjadi arti penting bagi perkembangan keberadaan islam di nusantara. Selain menunjukkan kuatnya oengaruh islam dalam politik kerajaan, peran penting ulama di atas sekaligus juga merupakan wujud berlakunya sebuah tradisi di dunia melayu sebagai “tradisi integrative”

Raja dan Ulama

Peran penting ulama nampaknya sedikit berbeda di kerajaan jawa, khususnya setelah kerajaan mataram berkuasa. Sejalan kebijakan politik penguasa mataram yang lebih menekankan kekuasaan sentralistik –monokraton- maka para ulama yang berkuasa di wilayah pantai utara jawa, tak hanya dilihat sebagai ancaman bagi system kekuasaan yang hendak dibangun tapi sekaligus menjadi sasaran kebijakan politik sentraalistik. Sejak sultan agung berkuasa upaya penaklukkan terhadap wilayah-wilayah yang berbasis kekuasaan ulama dipesisir dilakukan; seperti Lase, Pasuruan, Tuban. Setelah satu wilayah terpenting yang ditaklukkan sultan agung adalah Giri pada 1635. Dikatakan penting bahwa Giri sejak awal islamisasi di jawa merupakan symbol integrasi kekuasaan agama dan politik dibawah Sunan Giri

Raja dan Ulama

Dalam Undang-Undang malaka ditulis aturan mengenai hak dan kewajiban raja serta para elit politik di kerajaan; pernikahan, hukum cerai, hukum-hukum kriminal yang ditetapkan untuk menciptakan keamanan di lingkungan kerajaan dan regulasi mengenai kegiatan perdagangan. Semua aturan-aturan tersebut di adopsi dari hukum-hukum islam Al Qur’an

Kadi: Lembaga Hukum Islam

Di Aceh sudah terdapat satu Lembaga hukum tersendiri yang diduduki kalangan ulama. Beaulieu –pengembara prancis yang singgah di aceh pada 1621- mencatat adanya dua Lembaga hukum yang berlaku di kerajaan: yaitu (1) peradilan murni mengurusi masalah keagamaan, prilaku masyarakat yang jelas bertentangan dengan hukum-hukum islam, seperti: minum alkohol, berjudi, meninggalkan sembahyang dan puasa; dan (2) lebih berurusan pada masalah-masalah kemasyarakatan, seperti: perkawinan, cerai dan warisan

Kadi: Lembaga Hukum Islam

Upaya penerapan hukum islam oleh kerajaan selanjutnya bisa juga ditemukan di beberapa kerajaan lain di nusantara. Di Banten Lembaga kadi berperan penting dalam pemberlakuan hukum-hukum islam sangat ketat, terutama bagi mereka para pemakai ganja, diberitakan juga kadi kerajaan Banten senantiasa memberi putusan-putusan hukum sesuai Al Qur’an dan Sunnah

Dalam konteks perkembangan islam di jawa yang memperlihatkan corak “tradisi dialog”, kasus kerajaan banten bisa disebut kekecualian. Di kerajaan Demak pelaksanaan hukum islam tidak dilakukan secara intensif seperti di Banten. Hukum memang diakui telah ada di lingkungan masyarakat jawa, yaitu “penghulu”

Kadi: Lembaga Hukum Islam

Sementara di Sulawesi Selatan, sejalan keterlibatan intensifnya dalam dunia perdagangan maritime, penerapan hukum islam di kerajaan Goa-Tallo Nampak mencerminkan pola berkembang yang berlangsung di dunia melayu. Di kerajaan tersebut hukum-hukum islam menjadi salah satu komponen pentimg dalam perumusan budaya masyarakat Bugis-Masyarakat, Pangadereng atau pangadekan

Kadi: Lembaga Hukum Islam

Sementara di Sulawesi Selatan, sejalan keterlibatan intensifnya dalam dunia perdagangan maritime, penerapan hukum islam di kerajaan Goa-Tallo Nampak mencerminkan pola berkembang yang berlangsung di dunia melayu. Di kerajaan tersebut hukum-hukum islam menjadi salah satu komponen pentimg dalam perumusan budaya masyarakat Bugis-Masyarakat, Pangadereng atau pangadekan

Lembaga Pendidikan Islam: Meunasah, Surau dan Pesantren

Samudra pasai telah diakui sebagai pusat Pendidikan islam terkemuka dan menarik banyak kalangan masyarakat berkunjung belajar islam. Salah seorang yang tercatat pernah menuntu ilmu di kerajaan tersebut adalah Nur al-Din Ibrahim Mawlana Izra’il yang kemudian dikenal dengan Sunan Gunung Jati, seorang wali sanga yang berperan penting dalam proses islamisasi di jawa, serta peletak dasar berdirinya kerajaan Cirebon dan Banten.

Sejalan berkembangnya Aceh sebagai pusat kekuasaan islam terkemuka di nusantara pada abad ke-17 Lembaga pendidika islam kerajaan menjadi dasar tumbuhnya Lembaga-Lembaga Pendidikan islam serupa di beberapa wilayah lain melayu-nusantara

Lembaga Pendidikan Islam: Meunasah, Surau dan Pesantren

Di Minangkabau, Sumatra Barat, Tuanku Burhanuddin diakui sebagai orang pertama yang mendirikan Lembaga Pendidikan di Ulakan, sebuah kota pantai di Minangkabau setelah menamatkan studinya di aceh Bersama Abd al-Rauf al-Sinkili. Lembaga Pendidikan tersebut dikenal “Surau”

Sementara di Jawa, Pesantren lepas dari kontrol kekuasaan kerajaan, khususnya setelah Mataram berkuasa pada abad ke-17. Pesantren menjadi agen penting proses islamisasi di pedalaman jawa, yang selanjutnya membentuk watak keislaman yang dikenal sangat akrab dengan pola kehidupan pedesaan yang tradisional, bahkan juga dari sinilah pada masa penjajahan belanda, tampilnya para kyai sebagai actor penting dalam pemberontakan melawan kekuatan kolonial.

Kasus Khusus Pesantren di Jawa

Tiga teks jawa lahir dibawah ingkang ayasa-nya: carita Iskandar, carita Yusuf dan kitab usulbiyah yang kemungkinan besar ditulis pada masa yang sama dengan teks pertama dari dua teks yang baru disebutkan. Dalam teks-teks yang menjadi “kitab sakti” dari Ratu Pakubuwana islam menjadi satu landasan utama bagi perumusan budaya jawa.

Peran penting islam dalam budaya jawa juga diwujudkan dalam pola hubungan para raja dengan pesantren, domain para ulama. Dalam hal ini para raja mempelopori pembangunan pesantren-pesantren di sejumlah daerah yang secara tradisional didesain untuk tujuan keagamaan, yang disebut desa perdikan.

Desa Perdikan membentuk komunitas religious dibawah kepemimpinan ulama, ajaran islam diterapkan dan aturan islam dibuat, di desa perdikan inilah pesantren mula-mula didirikan

Kasus Khusus Pesantren di Jawa

Pesantren Tegalsari adalah contoh yang bagus, bertempat diwilayah madiun dan ponorogo di jawa timur, Tegalsari secara resmi didirikan sebagai desa perdikan pada masa pemerintahan Pakubuwana II di kerajaan Mataram

Penyebaran pesantren di seantero jawa: Banten, Bogor, Karawang dan kabupaten-kabupaten Priangan di Jawa Barat; Tegal, Pekalongan dan Rembang di Jawa Tengah; Gresik, Kedu, Surabaya, Pasuruan dan Banyuwangi di Jawa Timur, bertempat di desa perdikan. Karenanya tidak mengejutkan bahwa lingkaran para priyayi di istana memiliki hubungan dan kontak yang dekat dengan ulama di pesantren.

(Endnotes)

•              Desa Perdikan (arti harfiah “desa yang dibebaskan dari kewajiban pajak atau upeti”) datang dari tradisi jawa pra-islam khususnya kerajaan hindu-budha di Majapahit, adalah tanah pemberian yang diberikan oleh penguasa kepada pemuka agama umtuk tujuan keagamaan.

•              Sumber-sumber arsip istana mataram Yogyakarta dari abad ke-18 menunjukkan bahwa urusan keagamaan merupakan salah satu perhatian utama para penguasa jawa.

•              Fokkens melihat desa perdikan mencakup desa Pakoentjen (desa yang bertanggung jawab menjaga makam para petinggi bangsawan dan keluarga kerajaan), dan desa Keputihan (desa yang menjadi pusat komunitas keagamaan)

SEKIAN; TERIMAKASIH

 

 

Komentar