MANUSIA BUGIS



TUGAS KEBUDAYAAN INDONESIA
Kul. 13,  atau 14
MANUSIA BUGIS
•Judul: Manusia Bugis (original tilte:The Bugis/ penulis: Christian Pelras)
Penerjemah: Abdul Rahman Abu, Hasriadi, dan Nurhady Sirimorok
Penyunting edisi Indonesia: Nirwan Ahmad Arsuka, Ade Pristie Wahyo, dan J.B.Kristanto
Penerbit: Nalar bekerjasama dengan Forum Jakarta-Paris, Ecole Francaise d'Extreme-Orient (EFEO)
Edisi: I, 2006
Tebal: 449 hlm.

Orang Bugis.
•Suku bugis adalah salah satu suku terbesar di asia tenggara dengan populasi lebih dari empat juta orang yang mendiami bagian barat daya sulawesi.

•Orang bugis memiliki ciri khas yang menarik, karena mampu mendirikan kerajaan-kerajaan tanpa ada pengaruh india. Dan berbagai karya tulis yang berkembang baik lisan maupun tulisan yang salah satunya adalah la galigo.

•Sejak awal abad ke- 17 masehi, setelah menganut agamaa islam , orang bugis bersama orang minangkabau di sumatera, orang melayu di malaysia, orang sunda di jawa barat, orang madura di pulau madura dan jawa timur. telah di cap sebagai orang nusantara yang paling kuat identitas keislamanya.

•Bagi suku di sekitarnya orang bugis dikenal sebagai orang berkarakter keras dan menjunjung tingg kehormatan. Namun, mereka juga dikenal dengan orang  yang ramah dan mengharagi orang lain.

•Dalam kehidupan masyarakat bugis, interaksi sehari-hari berdasar pada sistem patron-klien dimana kesetiakawanan antara pemimpin dengan pengikutnya. Tetapi mereka tetap memiliki kepribadian yang kuat dan memiliki hasrat berkompetisi untuk mencapai kedudukan sosial tinggi, baik melalui jabatan atau kekayaan

•Suku bugis dan suku tetangganya di sulawesi selatan
Pada umunya sebagian suku di selatan mempunyai hubungan, baik linguistik maupun budaya dan sejarah. Wilayah tempat tinggal suku bugis berada di bagian tengah sulawesi selatan sehingga mereka menjadi satu-satunya yang bersentuhan langsung dengan hampir semua suku lain yang berdiam di provinsi tersebut, keadaan ini menyebabkan mereka memiliki bagian dari persamaan dengan suku-suku itu.

•Bugis dan Makasar: Makasar adalah kota pelabuhan terbesar di sulawesi selatan, dan sejak abad ke- 18 Masehi banyak orang bugis yang bermukim di sana. Oleh karena itu banyak yang tidak bisa membedakan orang bugis dan makasar, selain itu kata bugis dan makasar sering disandingkan sehingga banyak yang mengira itu adalah sinonim. Ecenderungan ini didasarkan atas kesamaan identitas mereka sebagai sesama muslim. Hal itu tidak dapat ditolak dan diabaikan. Namun terlepas dari berbagai ksamaan mereka tetap merupakan entitas yang berbeda.

•Suku bugis dan suku tetangganya di sulawesi selatan
Bugis dan  toraja: Dalam pandangan banyak orang penduduk sulawesi selatan yang paling banyak meiliki persamaan dengan bugis adalah Makasar sedangkan yang  paling sedikit adalah Toraja, namun pada kenyataanya tidak demikian. Bahasa bugis dan toraja bahkan memiliki kosakata yang banyak kesamaan (sekitar 45 persen) dari pada persamaan dengan bahasa makasar (40 persen). Selain itu Sejak lama orang bugis dan toraja juga memilki hubungan baik. Keduanya menjalin hubungan dalam bentuk barter, berbagai komoditi seperti besi,emas hasil hutan, biji kopi dari pegunungan (toraja) yang ditukar dengan produk dari (bugis) seperti garam, ikan asin, dan bahkan kerbau putih untuk keperluan upacara keagamaan orang toraja. Selain itu hubungan lain juga terlihat dari orang bugis yang belajar ketrampilan mengolah emas,perak dan besi dari pandai besi Toraja. Tradisi lisan yang beredar di Amparita, Sidenereng juga menyebutkan bahwa keterampilan itu di dapat dari orang-orang toraja.

•Suku bugis dan suku tetangganya di sulawesi selatan
Bugis dan Bajo: dari sejarah diketahui bahwa suku bajo bukan hanya menangkap ikan tetapi mereka juga pemasok berbagai komoditi pasar Internasional. Seperti kerang mutiara, teripang, sisik penyu, dan rumput laut. Selain itu orang bajo juga menyediakan komoditi dari hutan bakau sperti, akar-akaran, kulit dan kayu yang digunakan untuk bahan celup, madu, lilin tawon lebah dan kayu gaharu. Aktivitas ini melibatkan mereka dalam berhubungan perdagangan dan barter dengan kerajaan bugis dan makasar.

Kerajinan
Ada dua kerajinan yang ada pada orang bugis yaitu pertenunan dan pengolahan logam. Dalam pandangan hidup nenek moyang bugis, kain mewakili unsur kewanitaan sedangkan logam mewakili unsur kelaki-lakian. Bersatunya kain dan tombak (logam) melambangkan kesatuan kosmik. Selain memiliki makna simbolik, ketrampilan menenun dan mengola logam sejak dulu telah berperan sangat penting dalam bidang perekonomian orang bugis

•      KerajinanTenun
Tenun dan kain. Sejak lama tenun dan kain merupakan salah satu sumber penghasilan orang bugis. Yang mereka jual ke seluruh nusantara . kain itu bermotif kotak-kotak merah bercampur biru. Mereka juga membuat sabuk sutra tempat menyelipkan senjata. Selain menenun benang kapas dan sutra masyarakat bugis juga memanfaatkan serat pandan. Bahkan jenis alang-alang tertentu yang ditenun dengan benang lungsin kapas untuk di buat tikar panjang. Kain yang dewasa dihasilkan ini berupa kain sarung.

•      KerajinanLogam
Dua jenis logam paling utama dalam kebudayaan bugis adalah emas dan besi. Adapun perhiasan perak, walaupun tidak semenarik perhiasan-perhiasan emas, juga menempati  posisi penting dalam kebudayaan bugis misal sebagai alat upacara. Sedangkan kuningan, yang baaru dikenal belakangan terutama digunakan sebagai bahan senjata api.Logam emas di bugis biasanya digunakan sebagai bahan perhiasan seperti cincin.

•      KerajinanLogam
Pengrajin bugis juga pernah mengolah tembaga perunggu dan kuningan menjadi peralatan sehari-hari seperti: baki,tatakan untuk gelas, kobokan, kotak sirih, tempolong ludah dan lampu minyak, dengan atau tanpa kaki

Selain itu pandai bugis juga membuat kerajinan perak. Perak tidak dibuat menjadi peralatan sehari-hari, karena perlengkapan itu hanya digunakan untuk kalangan bangsawan. Perak digunakan untuk penghias sarung badik dan selain itu  Perak juga dijadikan medalion yang dikenakan anak-anak sebagai penanda jenis kelamin.

•      Kerajinan perahu pinisi Bugs

•      Jenis Perahu pinisi Bugis

•       Ada beberapa jenis kapal pinisi, namun yang pada umumnya pinisi ada 2 jenis :

•       Lamba atau lambo. Pinisi modern yang masih bertahan sampai saat ini dan sekarang dilengkapi dengan motor diesel (PLM).

•       Palari. adalah bentuk awal pinisi dengan lunas yang melengkung dan ukurannya lebih kecil dari jenis Lamba. 

•      Navigasi Bugis dalam pelayaran di laut

•   RumahBugis

•        Umumnya rumah orang Bugis berbentuk rumah panggung dari kayu berbentuk segi empat panjang dengan tiang-tiang yang tinggi memikul lantai dan atap. Konstruksi rumah dibuat secara lepas-pasang (knock down) sehingga bisa dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain.

•        Orang Bugis memandang rumah tidak hanya sekedar tempat tinggal tetapi juga sebagai ruang pusat siklus kehidupan. Tempat manusia dilahirkan, dibesarkan, kawin, dan meninggal. Karena itu, membangun rumah haruslah didasarkan tradisi dan kepercayaan yang diwarisi secara turun temurun dari leluhur. Konstruksi berbentuk panggung yang terdiri atas tingkat atas, tengah, dan bawah diuraikan yaitu : 

•        Tingkat atas digunakan untuk menyimpan padi dan benda-benda pusaka. Tingkat tengah, yang digunakan sebagai tempat tinggal, terbagi atas ruang-ruang untuk menerima tamu, tidur, makan dan dapur. Tingkat dasar yang berada di lantai bawah diggunakan untuk menyimpan alat-alat pertanian, dan kandang ternak. Rumah tradisional bugis dapat juga digolongkan berdasarkan status pemiliknya atau berdasarkan pelapisan sosial yang berlaku.

•      Bahasa.
Orang bugis,Mandar,Toraja, dan Makasar merupakan empat kelompok etnis terbesar di sulawesi selatan. Bahasa mereka berasbugis dan makasar mempunyai hubungan kebahasaan yang dekat meraka akan sulit memahami apabila mereka berkomunikasi dengan bahasa mereka masing-masing, bahkan dari empat bahasa al dari sub-rumpun bahasa Austronesia barat. Walaupun bahasa utama di sulawesi selatan, bahasa bugis dan makasar yang jauh berbeda. Dan empat suku tersebut pun juga memiliki dialek yang berbedda pula.

 

TERIMAKASIH ATAS PERHATIANYA



Source:
Dosen Drs. Suharyana, , M.Pd.

Komentar