Tradisi Penangkapan Ikan Paus Lamalera


Masyarakat Nelayan Lamalera dan Tradisi Penangkapan Ikan Paus 2016 Lamalera

-  Desa  lamalera terletak di pantai selatan pulau Lembata kabupaten Lembata , provinsi  NTT

-  Kondisi alam sangat kering dan berbatu. Pantainya pun terjal, bertebing dan batu cadas

-  Lamalera terdiri dari 2 desa yaitu desa Teti Lefo dan desa Lall Fata atau Lafo bela

-  Teti lefo  : Dusun Lamamanu, Dusun Fukalere dan Dusun Teti Felo

-  Lafo bela : Dusun Onga Ona, Dusun Futunglollo dan Dusun Lefo Bela

Masyarakat Lamalera
Orang – orang lamalera terdiri dari kelompok komunitas kekerabtan suku atau marga, Mereka  bukan penduduk asli pulau lembrata

- Suku / marga merupakan gabungan dari keluarga kecil yang seasal daerah turunan.

- Setiap suku dipimpin kepala suku yang juga berfungsi sebagai ketua adat.

- Kehidupan diatur dalam aturan adat yang mengikat

Ciri – ciri masyarakat lamalera

Sina Jawa

-  Yaitu kelompok yang berasal dari barat sperti dari Soge, Paga, Flores Tengah bahkan dari Jawa

-  Mempunyai ciri – ciri rambut lurus dan berkulit putih

Atta Ale
-  Kelompok yang telah lama menetap di pulau Lembata dan dikenal sebagai tuan tanah (Tana Alep)

-  Mempunyai ciri – ciri badan pendek, rambut keriting, tengkorak kepala menjorok kebelakang pada otak kecil

Seram Gorom
Yaitu kelompok yang berasal dari timur sperti Sulawesi dan Maluku
Mempunyai ciri- ciri rambut keriting, berkulit hitam, berbadan tegap dan tinggi

- Suku – Suku di Lamalera Berdasarkan Asal dan Peranan

-  Suku Blikollo             : tempat tinggal di ketinggian yang bersusun – susun seperti terasering dari batu

-  Suku Bataona            : bertempat tinggal di tengah – tengah susunan batu

-  Suku Lefotuka           : berarda di tengah kampung kareana sebagai pemerintah kampung

-  Suku Lamanudek      : berasala dari pulau lepanbatan. Berperan sebagai Atamolla (arsitek perahu)

-  Suku Tanahkofra        : berasal dari Lepanbatan. Berperan sebagai tabib

-  Suku Betafor             : berarda di luar puri

-  Suku Bediona            : berperan sebagai penjaga dan dipersenjatai dengan bedil

-  Suku  Lelaona           : berasaldari fula doni

-  Suku  Lamakera/keraf      : berasal dari lamakera di pulau solor

-  Suku  Hariona           : berasal dari kobu kota di pulau solor

-  Suku  Tapoona          : bertemat tinggal di antara pohon kelapa

-  Suku  Tufaona           : ditemukan di rumpuana pohon perdu yg disebut tufa

-  Suku  Oleona             : karena terapung di tengah arus akibat bencana

-  Suku  Lamaniffa         : berasal dari bone/bugis

-  Suku  Lango Fujo      : sebagai tuan tanah dan pemimpin upacara adat 

Tradisi atau Hukum yang Tabu Dilanggar

-  Lango bela (rumah adat) : merupakan rumah besar yang  segala kegiatan yang berkaitan adat diselenggarakan di rumah adat. Setiap tindakan dan tutur kata yang dilakukakn disini tidak boleh menyimpang dari aturan adat karena akan berdampak negatif bagi seluruh anggota suku

-  Tena laja (perahu dan peralatanya) : merupan sesuatu yang harus dijaga, dirawat sesuai ketenyuan tatanan. Semua tata cara sampai seremonialnya harus diikuti. Jika melanggar akan ada musibah bagi pelanggar dan perahu tersebut

-  Ola nua (mata pencaharian di laut) : kegiatan yang dihayati  dengan mempertaruhkan hidup  meskipun dengan resiko yang berat. Mengandung nilai2 sakral yang diwariskan turun temurun

-  Perkawinan : setiap orang harus tunduk dengan peraturan yang telah dibuat. Jika ada yang menyimpang akan dihukum sesuai hukum yang telah digariskan bersama suku. Peraturan dalam pernikahan adalah :

-  Suku di lamalera bersifat exogami(tidak boleh menikah dengan sesama suku)

-  Patrilineal atau marga berasal dari pria

-  Keluarga wanita dianggap sebagai suku pengasal disebut KAJO PUKA FAI MATTA.

Asal usul peranan setiap suku diperkenalakan sejak dini untuk mengetahui asal.

- Suku pemberi darah disebut Nana.

- Suku penerima darah disebut Opu

Tujuannya :

-  Menjaga tata krama, sopan santun antar manusia, suku di dalam hidup bersama

-  Mengenal rambu – rambu adat yang diperbolehkan dan yang tidak boleh diperbolehkan dalam membangun komunitas hidup bersama 

- Membangun harmonisasi hubungan antar manusia dan suku dalam masyarakat sebagai keluarga besar

- Bahasa dan Kesenian

- Bahasa di Lamalera berasal dari rumpun Melayu Polinesia. Bahasa ini disebut Bahasa Lamalera.

- Kesenian

Mereka biasanya membuat syair – syair (folkore) yang dilantunkan secara turun temurun untuk memperkenalkan mereka sebagai nelayan tradisional dan pemburu ikan paus.
Syair yang memperkenalkan asal usul disebut  Lia asa usu (syair asal usul) yang dinyanyikan setiap upacara adat.

- Para wanita juga mempenuyai ketrampilan untuk membuat tenun ikat. Ini merupakan ketrampilan wajib sebelum mereka menikah

Jenis – jenis sarung antara lain :

- Sarung Adat : digunakan saat upacara adat. Terdiri dari 2 jenis yaitu Kfatek Nai Rua dan Kfatek Nai tello. Benangnya dari serat kain asli dan ada motif tertentu

- Braggi : sarung yang ditenun dengan maksud dijadikan modaltambahan/ dijual, diktukar dengan bahan makanan.. Terbuat dari serat kapas yang mutunya rendah

- Sarung sehari – hari : bermotif lurus. Terdiri dari 2 jenis yaitu untuk wanita (Kfatek) dan laki – kali (Noffi)

- Religi

Awalnya masyarakat Lamalera adalah penganut Dinamisme atau mempercayai roh – roh nenek moyang. Roh nenek moyang disebut “Ina Ama Koda Kefoko”. Mereka selalu meminta pertolongan kepada leluhur. Karena mereka meyakini bahwa leluhur akan menjaga mereka dari bencana. Termasuk saat menagkap ikan paus yang merupakan tradisi turun – temurun.
Namun setelah agama Katholik masuk, mereka menganut agama tersebut.
Mereka selalu taat pada pesan atau amanat leluhur  “ona tou, mata tou, kemui tou, ka, tou” yang berarti satu hati dalam musyawarah, satu hati dalam bersikap tindak, berkaitan dengan segala hal di dalam suku baik menyangkut Tena Laja, Ola Nua maupun urusan – urusan lainya yang berkaitan dengan kehidupan komunitas bersama 

Sistem Perekonomian

-  Ola nua (Nelayan Tradisional)
Merupakan mata pencaharian utama masyarakat Lamalera yang diwarisi secara turun menurun. Masyarakat Lamalera mengkhususkan pada ikan – ikan besar seperti paus, pari, lumba-lumba dan lain – lain. Mereka memakai cara – cara tradisional sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Karena merupakan hukum tabu yang tidak boleh dilanggar. Mereka mempercayai bahwa semuanya harus dituruti dari awal sampai terakhir. Jika tidak akan ada hukum dan bencana.

-  Mata Pencaharian lain yang dilakukan oleh kaum pria saat tidak turun ke laut

-  Wana Topi : Ketrampilan menganyam topi

-  Tual Kila : ketrampilan membuat cincin dari gigi ikan paus yang nantinya dijual

-  Tula Kila: ketrampian membuat miniataur paledang (perahu) yang nantinya dijual kepada wisatawan

- Kegiatan para wanita adalah Fula Peneta, du hope atau barter (tukar menukar) di pasar. Mereka melakukannya untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari. Mereka menukar hasil hasil laut menjadi kebutuhan pokok. Desa tujuannya antara lain  Imulollo,Puor,Botto,Lefutuka,dan Udek.

- Selain itu mereka juga membuat garam atau yang disebut Doso Sia

- Sistem Teknologi

-  Pembuatan Palendang (Perahu) atau Tena Lamafis

-  Gili kajo : kegiatan membelah kayu untukperahu. Dengan upacara yang disebut  “Pau Laba Ketilo”

-  Urun Rembuk : bertukar pendapat tentang ukuran perahu

-  Gofa Le : Pemasangan lunas (balok kayu yang pertama). Saat selesai diadakan upacara “Toto Le”

-  Ara Blikeng : pemasanagn papan pertama pada perahu. Sjika tidak sesuai akan berdampak :

- Teknis : Kurangnya kelancaran dan kecepatan perahu serta keretakan.

- Magis : timbul bencana saat berada di laut

-  Sese Motti Bela : tanda syukur karena perahu telah selesai dibua

- Nama Perahu Setiap Suku

-  Suku batona dan Blikollo : Jafa Tena, Sinu Sapang, Tena Ana, Kebako Puka, Silitena

-  Suku Bediona (Beding) : Kelulus, Kena Puka

-  Suku Lefo Tuka : Kebelek Tena

-  Suku Lamanudek : Notta Tena, Datio Tena

-  Suku Lamakera (Keraf) : Nara Tena, Menula Belollo, Kora-Kora

-  Suku Oleona : Koppo Paker

-  Suku Tapoona : Sage Tena, Geleko Tena, Tena Tapo Ona

-  Suku Betafor : Teti Herri

-  Suku Hariona : Boli Sapang

-  Suku Lelaona : Lela Sapang, Ole Mao, Peraso Sapong

-  Suku Tufo Ona : Baka Tena

-  Suku Ata Kei : Muko Tena

-  Suku Lamanifa : Sia Ayu

Masyarakat Lamalera mengenal Leffa Nuang yaitu masa resmi turun ke laut. Terjadi pada saat bulan Mei – September yang merupakan musim kemarau (Mussi Lerra). Pada musim ini biasanya ikan paus muncul di Laut Sawu.
Mereka biasanya mengadakan upacara 3 hari sebelum turun ke laut yang disebut Tobu Nama Fatta. Para tetua mengumpulkan masyarakat dari desa Teti Leffo dan Lalli Fata bersama tuan tanah untuk membicarakan tentang mata pencaharian yang dijalani

Mereka mendatangi 7 lokasi untuk memohon pertolongan kepada leleuhur sebelum mereka  berangkat ke laut

-   Lokasi 1 : tempat bermusyawarah tentang hasil panen. Dan Suku Lango Fujjo melanjutkan permohonannya kepada leluhur.

-   Lokasi 2 : menenui arwah leluhur di Igo Lewu.

-   Lokasi 3 : Itok Kawe Longa, tempat mencabut alang – alang  yang digunakan sebagai syarat lalu dimasukan ke batu yang mirip dengan moncong kerbau dan ditarikhingga putus

-   Lokasi 4 : Pau Gora, kegiatan yang dilakukan  sama dengan lokasi ke3

-   Lokasi 5 : Enaj Snoa,  sepanjang  jalan membunyikan gong

-   Lokasi 6 : Watu Koteklema (sebuah batu yang bebrbentuk bangkai ikan paus

-   Lokasi 7 : Dusun Fukalere, tempat untuk beristirahat, setelah itu menuju Bata Bala Mai /  Namma Batuona. Mereka disambut dengan adat dan disuguhi piang, tembakau dan tuak

Cara penikaman ikan

-  Tuba Nabe Toal
Penikaman oleh Lama fa (penikam) yang dilakukan dengan cara melontarkan tempuling (tombak) ke tubuh ikan sambil terjun ke air  laut untuk menghindari tikaman ikan

-  Tuba Nabe Toal
Penikaman oleh Lama fa sambil terjun ke laut

Jenis – jenis ikan yang ditangkap
Ikan Besar :

-  Ikan Paus atau Kotek Lema

-  Ikan Hiu yang disebut Io

-  Ikan Lumba – lumba yang disebut Temu

Ikan Pari bersayap lebar yang terdiri dari 3 jenis :

- Blela : ikan pari terbesar

- Bou : ikan pari sedang

- Mokku : ikan pari keci

Ikan kecil

-  Ikan tuna

-  Ikan cakalang

-  Ikan tongkol

-  Penyu

-  Dan ikan kecil lainnya

Pada bulan Oktober – April mereka turun kelaut tapi tidak resmi karena kondisi laut yang tidak menguntungkan karena cuaca yang panas dan arah angin. Mereka biasanya juga merenovasi rumah, memperbaiki perahu dan bekerja di darat.

Kegiatan yang dijalani disebut :

- Plae ba Leo :
Kegiatan ini bersfat memdadak saat paus terlihat di laut dan mereka akan berteriak “Baleo..Baleo” yang saling sahut menyahut.

- Rai Leffo Tobi :
Kegiatan menangkap ikan di selat Tobi yang ditemph dalam waktu sehari semalam. Sasaranya ikan pari

- Rai Duli :
Para nelayan menangkap selain ikan paus di sekitar pulau Pantar

- Rai Fedda Ge Na Sajo :
Proses penangkapan ikan kecil seperti tongkol, tuna denag menggunakan pancing dari benang / kelera

- Tiffa Pukel :
Kegiatan mengangkap ikan dengan pukat (hiu, pari, tongkol dan ikan dasar laut

- Bitu :
Penangkapan dengan menggunakan benang yang disambungkan ke bambu di pinggir pantai

Mengapa masyarakat lamalera tetap pada tradisi Ola Nua dan Tena Laja?
Selain menjadi mata pencahaharian pokok bagi penduduk Lamelera, tradisi tersebut mengandung simbol – simbol kehidupan yang menjiwai kehidupan masyarakat Lamera. Simbol – simbol tersebut adalah :

- Simbo Heroisme Hidup
Artinya merupakan sumber daya untuk memperjuangkan hidup di laut demi istri, anak dan keluarganya secara keseluruhan serta demi Lefo Tana (kampung halaman)

- Simbo Persatuan dan Solidaritas Kelompok/Suku
Tena Laja merupakan simbol rasa kesatuan serta rasa solidaritas kelompok/suku dalam komunitas hidup bersama

- Simbol Ekomoni Kerakyatan
Tena Laja merupakan simbol ekonomi kerakyatan yang dilandasi oleh prinsip musyawarah dan mufakat

- Simbol Kekuatan Spiritual Hidup
Tena Laja merupakan simbol kekuatan spiritual hidup bagi masyarakat Lamalera dan merupakan jiwa yang memberi semangat kepada masyarakat Lamalera



Source:

Dosen Drs. Suharyana, , M.Pd.

Komentar